*Cerpen nomor 0061*
*Di Meja yang Sama walau beda bangku*
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Jakarta
21 Maret 2026
Minal aidin walfa izin
Mohon maaf lahir dan batin
*Selamat hari raya Idul fitri*
*1447 Hijriah*
Dalam suka cita dan cinta
Di sebuah rumah sederhana di Jakarta,
di antara hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, hiduplah sebuah keluarga yang tak biasa
namun justru di situlah letak keindahannya.
Redi, seorang pria Muslim berawak tinggi besar
yang bekerja sebagai manajer stasiun di Gambir, adalah sosok yang tegas namun hangat.
Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari benar-benar terbit, memastikan kereta-kereta berjalan tepat waktu, seperti ritme hidupnya yang teratur.
Istrinya, Maria, seorang Katolik yang bekerja sebagai suster di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta
adalah perempuan Cantik
penuh kasih, dengan senyum yang menenangkan siapa pun yang sedang sakit
baik tubuh maupun hati.
Mereka memiliki tiga anak perempuan yang semuanya sudah kuliah:
Pertama Nita, si sulung yang memilih Katolik seperti ibunya;
Kedua Mira, anak kedua yang mengikuti keyakinan ayahnya sebagai Muslim;
dan ketiga Susana, si bungsu yang memilih jalan Buddha dengan ketenangan yang khas.
Perbedaan itu tak pernah menjadi jurang. Justru menjadi taman bunga dengan warna-warni yang memperindah kehidupan mereka.
Suatu sore menjelang bulan Ramadan, suasana rumah terasa lebih hidup dari biasanya.
“Ayah, nanti sahur pertama aku bantu ya,” kata Mira sambil membawa segelas teh hangat ke meja makan.
Redi tersenyum, “Wah, anak ayah makin rajin.
Tapi jangan sampai kesiangan kuliah ya.”
Nita yang duduk di sebelahnya ikut menyela, “Aku juga bangun kok. Sekalian temani Mama doa pagi.”
Susana tertawa kecil, “Aku sih ikut bangun juga… tapi mungkin cuma duduk sambil minum air dan meditasi sebentar.”
Maria yang baru saja pulang dari rumah sakit meletakkan tasnya dan memandang mereka satu per satu.
Matanya berbinar.
“Beginilah rumah yang Mama suka,” katanya lembut. “Ramai, beda-beda, tapi tetap satu meja.”
Ramadan pun tiba.
Setiap dini hari, dapur rumah itu hidup.
Mira membantu menyiapkan sahur bersama Maria, sementara Nita dan Susana kadang masih mengantuk di kursi makan, namun tetap menemani.
“Doanya masing-masing ya,” ujar Maria setiap kali mereka akan makan.
Redi mengangkat tangan, membaca doa dengan khusyuk.
Mira mengikutinya. Di sisi lain, Nita membuat tanda salib, dan Susana menundukkan kepala dalam diam.
Tidak ada yang merasa asing.
Hanya ada rasa hormat.
Namun, seperti keluarga pada umumnya, mereka pun tak luput dari perdebatan kecil.
Suatu malam, saat berbuka puasa, terjadi sedikit ketegangan.
“Aku rasa kita harus lebih tegas soal jadwal rumah,” kata Nita. “Semua sibuk, tapi rumah juga harus rapi.”
Mira langsung menjawab, “Aku juga sibuk, Kak. Jangan seolah-olah aku yang paling santai.”
“Bukan begitu maksudku—”
“Sudah, sudah,” potong Susana sambil tersenyum, “kita ini beda agama saja bisa akur, masa beda jadwal piket ribut?”
Redi menatap mereka dengan sedikit serius, tapi kemudian tersenyum.
“Perdebatan itu biasa,” katanya. “Yang penting, jangan sampai kita lupa kenapa kita bisa duduk di sini bersama.”
Maria menambahkan pelan, “Karena kita saling mencintai, bukan karena kita sama.”
Suasana pun mencair.
Tawa kembali terdengar, mengisi ruang makan yang sederhana itu.
Tak lama setelah Ramadan berjalan, suasana Imlek yang baru saja lewat masih terasa. Beberapa lampion kecil masih tergantung di sudut rumah
kenangan dari perayaan yang juga mereka rayakan bersama kerabat.
Kini, mereka mulai membicarakan dua momen besar yang akan datang: Idul Fitri dan Paskah.
“Lebaran tahun ini kita buat lebih ramai ya,” kata Mira penuh semangat.
“Aku mau bikin kue sendiri!”
Nita langsung menyahut, “Kalau begitu aku bantu dekorasi rumah. Sekalian nanti untuk Paskah juga.”
Susana mengangguk, “Aku bagian bersih-bersih saja deh. Biar semua nyaman.”
Maria tersenyum melihat anak-anaknya, lalu memandang Redi.
“Kita beruntung ya,” katanya pelan.
Redi mengangguk, “Sangat.”
Hari-hari berlalu dengan damai. Redi tetap sibuk di stasiun, Maria dengan pasien-pasiennya, dan ketiga anak mereka dengan dunia kampus masing-masing. Namun setiap malam, mereka selalu berusaha makan bersama.
Meja makan itu menjadi pusat kehidupan mereka.
Tempat diskusi.
Tempat bercanda.
Tempat berdebat.
Dan tempat saling menguatkan.
“Menurut kalian,” tanya Susana suatu malam, “kenapa kita bisa seperti ini?”
Mira berpikir sejenak, lalu menjawab, “Karena kita tidak pernah dipaksa.”
Nita menambahkan, “Dan karena kita diajarkan untuk mendengar, bukan hanya bicara.”
Maria memandang Redi dengan hangat, “Dari awal kami sepakat, cinta tidak boleh memaksa.”
Redi tersenyum, “Dan iman itu harus tumbuh, bukan dipaksakan.”
Akhirnya, hari yang dinanti tiba.
Idul Fitri 1447 H.
Rumah itu penuh dengan aroma ketupat, opor ayam, dan kue-kue buatan Mira. Nita sibuk mengatur meja dengan rapi, sementara Susana memastikan semuanya bersih dan nyaman.
Maria mengenakan pakaian sederhana namun anggun, membantu di dapur, sementara Redi mengenakan baju koko putih.
Saat waktu salat Id tiba, Mira menemani ayahnya ke masjid.
Nita dan Susana tinggal di rumah bersama Maria, menyiapkan segalanya untuk menyambut.
Ketika Redi dan Mira kembali, suasana penuh haru menyelimuti rumah.
“Mohon maaf lahir dan batin,” kata Mira sambil mencium tangan ibunya.
Maria memeluknya erat, “Mama juga, Nak.”
Nita dan Susana ikut bergabung. Mereka saling berpelukan, tertawa, bahkan sedikit menitikkan air mata.
Hari itu, tidak ada perbedaan.
Yang ada hanya keluarga.
Beberapa hari kemudian, mereka mulai mempersiapkan Paskah.
Kali ini, Nita yang lebih sibuk. Ia menyiapkan lilin, bunga, dan dekorasi sederhana.
“Ayah bantu ya,” katanya pada Redi.
Redi tersenyum, “Tentu. Ini rumah kita bersama.”
Mira membantu tanpa ragu, sementara Susana kembali dengan perannya menjaga suasana tetap damai.
Saat malam Paskah tiba, mereka kembali duduk di meja yang sama.
Doa kembali dipanjatkan
masing-masing dengan cara mereka sendiri.
Namun satu hal yang sama: rasa syukur.
Di rumah itu, perbedaan bukanlah batas.
Ia adalah jembatan.
Yang menghubungkan hati-hati yang tulus.
Dan di tengah dunia yang sering kali terpecah karena perbedaan, keluarga kecil itu menjadi bukti bahwa cinta, rasa hormat, dan kebersamaan… selalu lebih kuat.
Selama mereka masih duduk di meja yang sama, mereka tahu,
*mereka akan selalu menjadi satu.*
Selamat hari raya idul fitri H 1447
*Minal aidin Walfa Izin*
*Mohon maaf lahir dan batin*
*Adharta*
www.kris.or.id I www.adharta.com
