Cerpen no 0057
SURVIVAL: BEKERJA
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Jakarta
2 Maret 2026
Sebuah kisah yang kudengar sendiri
Ike berangkat kerja ketika kebanyakan orang masih terlelap.
Jam empat pagi. Langit Jakarta masih gelap, jalanan basah oleh sisa hujan semalam dan sisa lelah kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Ike mengunci pintu rumah kontrakan kecil di Jakarta Timur dengan pelan, takut membangunkan dua adiknya yang tidur berdesakan di satu kasur tipis.
Ayahnya, pegawai negeri dengan gaji pas-pasan, sering terbatuk dalam tidur. Ibunya sudah bangun sejak tadi, menyiapkan nasi putih dan telur dadar yang dibagi jadi empat bagian.
“Ini bekalmu,” kata ibunya lirih.
Ike mengangguk.
Ia tak berani lama-lama menatap wajah ibunya. Ia tahu, di mata itu ada rasa bersalah yang tak pernah terucap
karena anaknya harus menanggung beban yang seharusnya belum ia pikul di usia 19 tahun.
Ike bekerja di sebuah restoran Korea di mal Jakarta Barat.
Ia tinggal di Jakarta Timur.
Ia menempuh perjalanan panjang setiap hari
pulang dan pergi
demi satu hal sederhana yakni uang untuk makan.
Jam delapan pagi, ia sudah berdiri di dapur panas.
Jam sebelas malam, ia masih berdiri di tempat yang sama.
Dua puluh jam.
Hampir tanpa jeda.
Hampir tanpa suara.
Ike membersihkan meja, mencuci piring, mengangkat barang berat, melayani tamu dengan senyum yang dipaksakan.
Tangannya sering gemetar, punggungnya nyeri, kakinya terasa mati rasa. Tapi ia tetap berdiri.
Karena duduk terlalu lama bisa dianggap malas. Dan malas berarti tidak dibutuhkan.
Gajinya sangat kecil.
Terlalu kecil untuk disebut layak.
Namun cukup
jika kata “cukup” diartikan sebagai tidak mati hari ini.
Pukul satu dini hari, Ike baru tiba di rumah.
Ia mandi cepat, meneguk air putih, lalu rebah. Dua atau tiga jam kemudian, alarm berbunyi. Subuh memanggil, dan hidup menuntut lagi.
Capek bukan lagi keluhan.
Capek sudah jadi keadaan.
Dalam wawancara bersama tim KRIS, seorang bertanya padanya:
“Bagaimana kamu bisa bertahan kerja dua puluh jam dengan gaji sekecil itu?”
Ike terdiam sejenak.
Lalu menjawab pelan, tapi tegas:
“Ini bukan soal kuat atau tidak.”
“Ini hanya untuk survival.”
Kalimat berikutnya jatuh seperti palu:
“Kalau saya tidak ambil pekerjaan ini, kami sekeluarga bisa mati kelaparan.”
Tidak ada drama.
Tidak ada teriakan.
Hanya kejujuran telanjang dari seorang anak yang terlalu cepat dewasa.
Ike bercerita tentang betapa sulitnya mencari pekerjaan setelah pandemi.
Lowongan ada di mana-mana, tapi syaratnya seperti tembok tinggi: pendidikan, pengalaman, keahlian, usia ideal.
“Saya tidak punya semua itu,” katanya.
“Saya hanya punya kemauan bekerja.”
Ia melamar ke banyak tempat. Datang, mengisi formulir, menunggu, berharap.
Lalu pulang dengan jawaban yang sama: kami akan hubungi.
Yang tidak pernah benar-benar menghubungi.
Akhirnya, ketika perut tak bisa lagi menunggu dan tagihan tak bisa lagi ditunda, Ike berhenti memilih.
“Yang penting ada kerja,” katanya.
“Yang penting bisa makan.”
Di restoran, Ike bertemu banyak wajah.
Ada pelanggan yang ramah.
Ada yang memandangnya seperti mesin.
Ada yang memarahinya karena pesanan terlambat beberapa menit.
Tak ada yang tahu atau mau tahu
bahwa gadis yang berdiri di depan mereka tidur hanya dua jam semalam. Bahwa senyum itu dibayar dengan sakit kepala dan nyeri tulang.
Bahwa satu komplain bisa berarti ia kehilangan pekerjaan.
Ia menunduk.
Ia meminta maaf.
Bukan karena ia selalu salah.
Tapi karena ia tidak punya ruang untuk melawan.
Teman kerjanya pernah bertanya,
“Kenapa kamu nggak cari kerja lain saja?”
Ike tersenyum pahit.
“Kalau semudah itu, aku sudah pergi.”
Ia tahu, di luar sana ribuan orang juga sedang mencari. Banyak yang lebih pintar. Lebih terampil. Lebih beruntung. Dalam sistem yang kejam,
Ike hanyalah angka yang mudah diganti.
Malam hari, saat semua tertidur, Ike sering menatap langit-langit.
Ia lelah.
Ia takut.
Tapi ia tetap bangun esok hari.
Bukan karena ia paling kuat.
Melainkan karena ia tidak diizinkan untuk jatuh.
Kisah Ike bukan kisah tunggal.
Ini kisah para pekerja yang kita temui setiap hari
di restoran, di toko, di jalan
namun jarang kita lihat sebagai manusia utuh.
Mereka bukan pemalas.
Bukan manja.
Bukan tidak mau berkembang.
Mereka hanya sedang bertahan hidup di tengah ekonomi yang keras dan pilihan yang sempit.
Sahabatku
Anda membaca ini sambil duduk nyaman, tolong ingatlah
Di balik pelayanan cepat dan senyum sopan, ada tubuh yang hampir roboh.
Ada anak-anak muda yang bekerja bukan untuk mimpi
melainkan untuk besok pagi.
Survival bukan pilihan romantis.
Survival adalah jeritan sunyi orang-orang kecil.
www.kris.or.id I www.adharta.com
