Ma Dou, Cahaya yang Tak Pernah Padam

Oleh : Ad harta
Ketua Umum
KRIS

Tanjung Priok
Akhir Pebruari 2026

Kami sekeluarga
Mulai dari Kakek Ayah Saudara
Semua bekerja mencari nafkah di laut
Ada yang usaha Angkutan
Pelayaran
Dan usaha usaha lain yang berhubungan dengan laut

Ada pepatah mengatakan

_Tuhan tidak pernah menjanjikan Laut itu tenang tanpa Ombak Badai dan Taufan_
_Tapi yang pasti Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang penuh kebahagiaan_

Demikian pula untuk bahtera keluarga
(Kapten Nayoan)

Hari ini saya akan mengangkat kata dermaga atau pelabuhan dalam bahasa Mandarin
Disebut Ma Dou (nama orang)

Mari saya ajak anda mengenal Ma Dou terutama keluarga sahabat yang bekerja di laut

Alkisah
Di sebuah desa nelayan di pesisir selatan Tiongkok, hiduplah seorang gadis bernama Ma Dou.

Ia bukan bangsawan, bukan pula putri tabib besar.
Ia hanya anak seorang nelayan sederhana, lahir dari keluarga yang hidupnya bergantung pada laut—laut yang memberi rezeki, tetapi juga sering merenggut nyawa.

Sejak kecil, Ma Dou dikenal pendiam dan tekun.
Ia membantu ibunya menenun, menunggu ayahnya pulang dari laut, dan setiap senja menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka yang menghadap ke pantai.

Baginya, cahaya kecil itu adalah doa: agar kapal-kapal yang pergi, pulang dengan selamat.

Ayahnya sering berkata,
_“Laut harus dihormati, bukan ditaklukkan.”_

Kata-kata itu disimpan oleh Ma Dou dalam-dalam, menjadi bagian dari napas hidupnya.

Suatu malam, badai besar datang tanpa ampun.
Angin mengamuk, ombak menjulang seperti dinding hitam.
Puluhan perahu nelayan terjebak di tengah laut.

Tangis dan doa bercampur dengan suara angin yang meraung.

Ma Dou melihat ke arah laut yang gelap. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil lampu minyak terbesar di rumahnya.
Ia mendaki bukit batu di tepi pantai, tempat tertinggi yang bisa dicapai manusia.

Di sana, dengan tubuh kecilnya, ia berdiri dan mengangkat lampu itu tinggi-tinggi.

Satu malam berlalu.
Lalu malam kedua.
Lalu malam ketiga.

Tiga hari tiga malam, Ma Dou berdiri tanpa turun tanpa makan tanpa minum, Angin memukul tubuhnya, hujan mengoyak wajahnya, tetapi lampu itu tak pernah padam. Setiap kali hampir mati, ia melindungi api dengan tubuhnya sendiri.
Cahaya itu menjadi penunjuk arah, menjadi harapan, menjadi jalan pulang bagi para nelayan yang tersesat.

Banyak kapal selamat malam itu.
Mereka melihat cahaya di kejauhan
tenang, teguh, tak tergoyahkan seolah seseorang berdiri menjaga mereka.
Saat badai akhirnya reda, penduduk desa mendaki bukit itu.

Mereka menemukan Ma Dou masih berdiri, lampu masih terangkat… tetapi nyawanya telah pergi.
Ia wafat dalam posisi berdiri, menjaga cahaya hingga akhir.
Tak lama setelah itu, kisah aneh menyebar.

Para pelaut mengaku melihat sosok perempuan berdiri di tengah badai, menuntun kapal ke dermaga. Mereka menyebutnya *Ma Tou atau Ibu Cahaya, Penjaga Laut.*

Orang-orang percaya: kebajikan Ma Dou terlalu besar untuk dilenyapkan oleh kematian. Ia dimuliakan, dipuja, dikenang sebagai pelindung pelaut dan perantau.

Dari nama dan kisahnya, orang menyebut tempat kapal bersandar sebagai Ma Tou atau Dermaga
tempat cahaya menanti mereka pulang.
Hingga hari ini, setiap pelabuhan sesungguhnya menyimpan jejak Ma Dou:
seorang gadis biasa,
yang dengan amanah dan kasih,
mengubah cahaya kecil menjadi keabadian.

Kalau aku menyebutnya sebagai seorang Dewi yang menjaga para pelaut

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *