Di Antara Sampah, Aku Menemukan Harapan

Cerpen 0055

Oleh : Ad harta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Sindanglaya
Sabtu
21 Pebruari 2026

Cintaku
Aku berdiri terpaku di tempat penimbunan sampah di Jalan Raya Sindanglaya, Cipanas.

Bau agak menyengat menusuk hidung, tapi yang lebih menusuk adalah kenangan hidup ku masa lalu.
Tumpukan sampah ini bukan sekadar limbah
ia adalah saksi hidup masa kecilku.

Tanpa sadar, air mataku menetes, satu per satu, jatuh ke tanah yang dulu pernah menjadi alas hidupku.

Tiga puluh tahun lalu, di tempat inilah aku belajar tentang lapar, dingin, dan bertahan hidup.

Namaku belum ada saat itu. Aku hanya seorang anak kecil berusia lima tahun yang tidak tahu siapa orang tuaku, tidak tahu dari mana aku berasal.

Aku hanya tahu: aku sudah ada di dunia ini, dan dunia ini terasa sangat kejam.
Aku tidak sendiri.

Ada tiga temanku: Didi, Andi, dan Surya.
Mereka ini juga tidak ada keluarga

Kami berempat, anak-anak jalanan yang setiap hari mengais sampah, mencari sisa makanan untuk sekadar mengisi perut agar tidak melilit perih.

Kadang nasi basi, kadang tulang, kadang hanya remah-remah yang tak layak disebut makanan.

Tapi bagi kami, itu adalah kehidupan.
Malam hari adalah musuh terbesar.

Kami tidur di bawah jembatan, berselimutkan karton yang basah dan sobek.

Angin malam menusuk tulang, membuat tubuh kecil kami menggigil tanpa henti.

Tidak ada pelukan ibu, tidak ada suara ayah yang menenangkan.

Yang ada hanya suara kendaraan dan rasa takut akan hari esok.

Aku sering bertanya dalam hati, meski belum mengerti arti hidup sepenuhnya:

Mengapa aku dilahirkan? Mengapa aku ada, tapi sendirian?

Aku tumbuh tanpa tahu siapa orang tuaku. Hingga dewasa, aku mencoba mencari mereka
bertanya, berharap, menelusuri jejak yang bahkan tidak aku miliki. Tapi jawabannya selalu sama: tidak ada.

Suatu hari hujan turun sangat deras. Kami tidak bisa mengais sampah.
Tukang sampah pun tidak datang. Perut kami kosong sejak pagi. Dalam keputusasaan, kami melihat sebuah pohon pepaya tak jauh dari sana. Buahnya masih mentah, pahit, tapi kami memakannya juga. Setidaknya, itu bisa menahan rasa sakit di perut kecil kami.
Saat aku sedang berdiri di bawah pohon itu, tiba-tiba sebuah tangan menepuk punggungku. Aku terkejut. Seorang bapak berdiri di belakangku. Wajahnya tenang, suaranya lembut.
Bapak itu mengajakku ke rumahnya.
Di rumah itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku makan nasi hangat dan daging.

Aku diberi baju. Aku diperlakukan seperti anak manusia.
Tapi aku tidak tahu siapa dia. Tidak tahu namanya.
Tidak tahu mengapa ia begitu baik.
Setelah makan, aku kembali ke bawah jembatan dan menceritakan semuanya kepada Didi, Andi, dan Surya.

Keesokan harinya, kami berempat mencari rumah bapak itu.
Kami menemukannyarumah kecil, sederhana. Tapi kosong.

Tidak ada siapa-siapa.
Hari demi hari berlalu.
Bapak itu tidak pernah kembali.
Dengan rasa takut, kami memutuskan tinggal di rumah kosong itu.
Kami masih anak-anak. Malam terasa panjang.

Aku hanya bisa menangis, bertanya dalam diam mengapa kebaikan datang lalu pergi begitu saja.
Namun hidup harus berjalan. Kami kembali mengais sampah, mengemis, bertahan sekuat yang kami bisa.
Hingga suatu hari,
hidup kami berubah.

Kami bertemu seorang pastor. Tatapannya penuh kasih, bukan iba.
Pastor itu mengajak kami ke sebuah panti asuhan
yang kini dikenal sebagai Panti Asuhan Santo Yusup.

Di sanalah aku mendapatkan sesuatu yang belum pernah aku miliki: rumah.

Kami diberi tempat tinggal, makanan yang layak, dan yang terpenting
pendidikan.

Aku masuk taman kanak-kanak, punya taman bermain, punya seragam sekolah.

Aku belajar tertawa tanpa rasa takut. Aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang bermimpi.

Di sanalah aku diberi nama: Boy.
Nama yang diberikan oleh pastor, dan sejak saat itu aku tahu
aku diakui sebagai manusia.
Tiga puluh tahun berlalu.
Kini aku kembali berdiri di samping tumpukan sampah di Sindanglaya Cipanas.

Tapi aku bukan lagi anak kecil yang kelaparan. Aku adalah seorang suami, ayah, dan manusia yang bersyukur.

Aku menikah dengan seorang perempuan bernama Tina. Kami dikaruniai dua anak:

Rudy, anak laki-lakiku, dan Susan, putri kecilku.
Saat mereka memelukku, aku sering terdiam.

Pelukan ini dulu tidak pernah aku punya
dan kini, Tuhan memberikannya berlipat ganda.

Air mata masih mengalir, tapi kini bercampur senyum.

Jika bukan karena tangan-tangan yang peduli, jika bukan karena sebuah panti asuhan yang membuka pintu bagi anak-anak terlantar, aku mungkin tidak akan berdiri di sini hari ini.

Masih banyak anak di luar sana yang tidur di bawah jembatan.
Masih banyak yang mengais sampah untuk hidup.

Mereka bukan anak yang salah lahir.
Mereka hanya belum bertemu kesempatan.

Mari kita menjadi kesempatan itu.
Membantu panti asuhan bukan sekadar memberi makan
tetapi memberi masa depan. Karena dari tempat yang paling gelap sekalipun, harapan bisa tumbuh…
jika ada yang mau menyalakan cahaya.

www.kris.or.id  I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *