Cerpen 0053

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Rabu Abu
18 Pebruari 2026

Sahabat ku

Rabu Abu
Awal Perjalanan Pulang ke Hati Tuhan

Rabu Abu adalah sebuah gerbang sunyi.
Ia tidak dibuka dengan terompet atau nyanyian meriah, melainkan dengan debu, doa, dan keheningan batin.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Rabu Abu menandai dimulainya Masa Prapaskah
empat puluh hari perjalanan rohani menuju Paskah, menuju kebangkitan, menuju harapan.

Sahabat ku

Riwayat Rabu Abu
Sejak abad-abad awal Kekristenan, abu telah menjadi simbol pertobatan.

Dalam Kitab Suci, abu dipakai oleh manusia yang menyadari keterbatasannya

Ayub duduk di atas abu, Yunus menyerukan pertobatan dengan kain kabung dan abu, dan bangsa Israel menundukkan diri di hadapan Tuhan dengan debu.

Gereja kemudian mengolah simbol ini menjadi ritus liturgis abu dari daun palma Minggu Palma tahun sebelumnya dibakar, lalu dioleskan di dahi umat sebagai tanda iman dan pertobatan.

Kata-kata yang diucapkan imam pada saat pengolesan abu begitu sederhana, namun mengguncang jiwa:
“Ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.”

Amin

Kalimat ini bukan ancaman, melainkan undangan untuk jujur pada diri sendiri—bahwa hidup ini rapuh, singkat, dan sepenuhnya bergantung pada kasih Allah.
Proses dan Liturgi Rabu Abu
Dalam liturgi Rabu Abu, umat berkumpul dalam suasana hening.
Warna ungu mendominasi altar, melambangkan pertobatan dan penantian.
Tidak ada nyanyian kemuliaan. Tidak ada bunga.

Yang ada hanyalah Sabda Tuhan, doa, dan abu.

Pada hari ini, umat Katolik diwajibkan berpuasa dan berpantang: berpuasa berarti makan kenyang satu kali sehari, dengan dua kali makan ringan

berpantang berarti tidak makan daging. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih hati untuk berkata “cukup” dan belajar mengendalikan keinginan.

Makna Mendalam Rabu Abu
Rabu Abu adalah cermin.
Ia memaksa kita menatap diri tanpa topeng, tanpa gelar, tanpa pencapaian.

Abu di dahi menghapus jarak antara kaya dan miskin, kuat dan lemah.

Kita Semua sama:
manusia yang sedang pulang.
Ada romantisme yang lembut dalam Rabu Abu
seperti sepasang kekasih yang memilih diam bersama, saling memahami tanpa banyak kata.

Tuhan tidak memarahi manusia pada hari ini.
Tuhan menunggu.
T uhan membuka pintu dan berkata, “Pulanglah.”

Kisah-Kisah Kecil yang Menghidupkan Rabu Abu
Banyak orang mengingat Rabu Abu sebagai hari ketika seorang ayah mengajak anaknya berdiri dalam antrean abu, lalu berbisik,

“Ini tanda kita mau jadi lebih baik.”

Ada juga pasangan suami istri yang saling berjanji

bukan hanya puasa makanan, tetapi puasa marah, puasa ego, puasa kata-kata yang melukai.

Di rumah sakit, di penjara, di desa kecil, abu yang sama dioleskan
mengikat semua manusia dalam satu kisah pertobatan yang sunyi namun indah.

Apa yang Dilakukan Selama Masa Prapaskah

Selama Masa Prapaskah hingga Paskah, Gereja mengajak umat menjalani tiga pilar rohani:

Pertama
Puasa – melatih pengendalian diri.

Kedua
Doa – memperdalam relasi dengan Tuhan.

Ketiga
Sedekah – membuka hati bagi sesama.
Selain itu, umat diajak mengikuti Jalan Salib, membaca Kitab Suci, berdamai dengan sesama, dan menerima Sakramen Tobat.

Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi jujur dan rendah hati.

Sahabat ku
Akhir kata dalam cerita yang penuh kedamaian

Rabu Abu bukan tentang abu di dahi, melainkan tentang hati yang bersedia diubah.

Dari debu kita datang, dan oleh kasih Tuhan, kita diberi harapan untuk bangkit.

Masa Prapaskah adalah perjalanan cinta
perlahan, jujur, dan penuh makna—menuju terang Paskah.

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *