Makna Puasa Ramadhan dalam Kehidupan Keluarga
Cerpen no 0054
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Jakarta
18 Pebruari 2026
Saya punya seorang Paman
Namanya Mardjuki Arkiang (almarhum)
Beliau seorang Muslim yang sangat taat sekali
Bibi saya asli orang Bali beragama Hindu taat
Mereka tinggal di Ambon di Hative kecil kompleka Agraria
Suatu saat saya mengenangnya
Saya bertugas di Ambon sekitar tahun 80an
Disana saya mendapat sakit cukup parah sehingga ponda menginap di rumah Paman saya
Selama satu minggu tinggal disana bertepatan bulan puasa
Hubungan keluarga
Saya dekat dengan Paman dan Bibi saya
Selama saya sakit Bibi selalu menyiapkan makanan buat saya
Tetapi kita juga sahur dan buka betsama menemani paman saya
Sungguh sebuah tingkat toleransi yang luar biasa
Kenangan ini selalu ku ingat
Saya memiliki sahabat yang saya anggap keluarga atau ayah dan Ibu
Di Jakarta
Bapak Rustam Efendy (Almarhum) seorang muslim yang taat beliau ketua Masyarakat Dayak dan pendiri HITACHi di Indonesia dan Ibu atau Mami Irene (alamarhum) seorang Kristen yang sangat taat
Hubungan kami sudah seperti ayah ibu dan anak
Ada kisah suatu hari Bapak Rustam Efendy dan Ibu Irene ke tanah suci naik haji bersama
Juga kunjungan ke Vatikan bersama
Tidak ada saling memaksakan pindah agama
Tetapi saling mencinta
Suatu sore bapak Ruatam telepon saya mau ajak dinner bersama di Pacific Place
Karena saya dan beliau datang kepagian
Maka kita ngopi dulu sambil menilmati singkong Goreng
Lalu saya bertanya kepada beliau
” Papi kan seorang Muslim taat dan Mami juga seorang Kristen taat apakah tidak pernah bertengkar selama lebih 50 tahun kawin “
” Pasti ada pertengkaran
Mana mungkin hidup perkawinan tanpa selisih paham
Tapi Mamimu itu orangnya suka bercanda
Setiap kali bertengkar selalu di bawa canda akhirnya bukan ribut tapi semua jadi tertawa”
Suatu hari Bapak Rustam sakit masuk Rumah sakit di Mount Elisabeth Singapura
Saya dan Istri menjenguk
Dan kita cari kesukaan mereka
Makan bersama
Bapak Rustam Suka makan nasi lemak
Ibu Irene suka Tori (Non halal)
Kita makan tapi wangu Sate Babi kuat sekali
Mami Irene bilang Nasi lemak rasa babi
Kita bercanda
Semua tertawa Riang Gembira
Kini mereka semua sudah istirahat dalam damai Surgawi tetapi
Aku tetap mengenang mereka semua karena menjadi bagian dari suka cita hidupku
Sebuah kisah toleransi yang luar biasa
Kenangan Ramadan selalu menjadi dasar pemikiran bagaimana hidup berdampingan dalam damai dan suka cita
Marhaban yaa Ramadhan. Bulan suci kembali menyapa umat manusia dengan kelembutan dan cahaya yang menenangkan jiwa.
Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah undangan ilahi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menata hati, dan memperbaiki hubungan
dengan Allah SWT, dengan sesama, dan dengan keluarga.
Puasa di bulan Ramadhan mengajarkan makna pengendalian diri, kejujuran batin, dan kepedulian yang tulus.
Puasa diwajibkan bagi umat Islam sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan
kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan.
Dalam lingkup keluarga, Ramadhan menjadi madrasah pertama dan utama.
Di rumah sederhana itu, nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan dipelajari bukan lewat ceramah panjang, melainkan melalui teladan, kebiasaan, dan kebersamaan. Saat sahur, anggota keluarga bangun lebih awal, saling membangunkan dengan senyum dan kesabaran.
Meja makan mungkin tidak mewah, namun kehangatan doa dan niat yang lurus menjadikannya penuh berkah.
Puasa juga menjadi ruang pertemuan hati. Dalam kesibukan sehari-hari, sering kali keluarga terpisah oleh rutinitas, perbedaan pendapat, bahkan luka yang tak terucap.
Kenangan Paman Dan Bibi Sya
Papi Rustam dan Mami Irene selalu menggiring hati saya jadi damai
Ramadhan mempertemukan kembali mereka dalam suasana yang lebih lembut.
Waktu berbuka puasa menjadi momen sakral: semua duduk bersama, menunggu azan magrib, menahan diri dari keluh kesah, dan memulai dengan doa.
Di sanalah percakapan sederhana berubah menjadi jembatan pengertian.
Tak jarang, Ramadhan menghadirkan proses pengampunan. Kesalahan masa lalu
kata yang menyakitkan, sikap yang melukai
perlahan mencair dalam semangat memohon maaf lahir dan batin.
Orang tua belajar merendahkan hati kepada anak, dan anak belajar menghormati orang tua dengan ketulusan.
Pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan jiwa yang telah disentuh cahaya Ramadhan.
Ikatan keluarga pun semakin erat.
Shalat tarawih yang dikerjakan bersama, tadarus Al-Qur’an di ruang tamu, atau sekadar berbagi cerita menjelang tidur menjadi benang-benang halus yang merajut kebersamaan.
Dalam keheningan malam, keluarga belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kelimpahan materi, melainkan dari kebersamaan yang penuh makna.
Sebuah kisah tentang keluarga sederhana dapat menggambarkan hal ini.
Ayah yang lelah bekerja, ibu yang setia mengurus rumah, dan anak-anak dengan segala keunikan mereka.
Di bulan Ramadhan, mereka sepakat untuk saling menjaga lisan dan perasaan.
Ketika perbedaan muncul, mereka belajar menahan amarah karena puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan ego.
Dari situ tumbuh cinta kasih yang dewasa
cinta yang memahami, bukan menuntut.
Ramadhan juga mengajarkan toleransi, bahkan di dalam keluarga sendiri.
Setiap anggota memiliki kemampuan dan kekuatan yang berbeda. Ada yang kuat berpuasa penuh, ada yang masih belajar.
Ada yang rajin ibadah sunnah, ada yang perlahan memperbaiki diri.
Toleransi berarti saling menguatkan tanpa menghakimi, saling mendoakan tanpa merasa lebih baik.
Inilah nilai luhur yang kelak dibawa keluar rumah, ke tengah masyarakat yang majemuk.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan spiritual keluarga menuju kebersamaan yang lebih dalam. Ia membentuk pribadi yang lebih sabar, keluarga yang lebih hangat, dan masyarakat yang lebih peduli.
Semoga di bulan penuh berkah ini, kita semua diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan sempurna, dipanjangkan umur, dilapangkan rezeki, disehatkan lahir batin, serta dianugerahi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
www.kris.ir.id I www.adharta.com
