“Saat Kita Berpisah, Aku Tahu”
Oleh :
Vincent Ketua KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat
Awal imlek 2577
Cintaku
Vincent baru menyadari satu hal paling penting dalam hidupnya justru setelah ia berpisah.
Hari itu, hujan turun tipis di pelabuhan kecil yang ramai oleh suara koper diseret dan pengumuman keberangkatan.
Vincent berdiri kaku, memegang tiket kapal dengan tangan gemetar. Di depannya, Yenny tersenyum
senyum yang berusaha kuat, padahal matanya berkaca-kaca.
Mereka hanya bertemu sebentar.
Terlalu sebentar untuk sesuatu yang terasa begitu dalam.
Yenny memberinya sekotak buah dan sebotol minuman murah
oleh-oleh sederhana yang ia persiapkan dengan canggung. Bahasa mereka berbeda.
Dunia mereka pun berbeda. Tapi entah bagaimana, selama beberapa hari terakhir, Vincent merasa lebih dimengerti oleh Yenny dibanding siapa pun yang pernah ia kenal.
Mereka berbicara dengan campuran kata, tawa, dan bahasa yang tak tertulis.
Tatapan.
Keheningan.
Cara Yenny mendengarkan.
Saat peluit kapal dibunyikan, Vincent melangkah naik. Ia menoleh sekali lagi. Yenny melambaikan tangan, berusaha tersenyum, meski air mata akhirnya jatuh juga.
Dan saat itulah Vincent tahu.
Bukan saat mereka tertawa bersama.
Bukan saat duduk berdua memandang laut.
Tetapi saat mereka berpisah—ketika jarak mulai tercipta, dan dadanya terasa kosong dengan cara yang tak bisa dijelaskan.
Yenny adalah satu-satunya.
Waktu bergerak kejam setelah itu.
Vincent kembali ke negaranya, kembali ke rutinitas, ke hidup yang “normal”. Tapi malam-malamnya tidak pernah sama.
Ia menulis surat untuk Yenny
berlembar-lembar, dengan kata yang dipilih hati-hati. Beberapa surat tak pernah dibalas. Beberapa mungkin tak pernah sampai.
Ia sempat menelepon dua kali. Suara Yenny di seberang sana membuat dadanya sesak dan hangat sekaligus. Setelah itu, tak ada lagi.
Dunia seperti sengaja menguji keteguhannya.
Orang-orang bilang, “Lupakan saja. Itu cuma pertemuan singkat.”
Tapi Vincent tahu—cinta sejati tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari dalamnya luka ketika kehilangan.
Tahun demi tahun berlalu. Vincent menjalani hidup, bekerja, tertawa, bahkan sesekali berkencan.
Tapi setiap senyuman terasa setengah. Setiap kebahagiaan terasa sementara.
Hingga suatu hari, sebuah kabar datang seperti cahaya di lorong gelap.
“Vincent,” kata seorang teman lama, “Yenny sekarang ada di kota ini.”
Dunia berhenti berputar.
Pertemuan itu terjadi di sebuah lobi hotel tua. Vincent menunggu dengan napas tertahan.
Dan ketika pintu terbuka, Yenny masuk.
Ia sedikit berubah. Lebih dewasa. Lebih tenang.
Tapi matanya
mata itu—masih saja.
Tak ada kata yang cukup. Tak ada kalimat yang perlu disusun rapi. Vincent hanya melangkah mendekat, menggenggam tangan Yenny, dan berkata dengan suara bergetar:
“Aku tahu ini gila… tapi aku tahu sejak hari kita berpisah. Aku ingin menjalani hidup bersamamu.”
Yenny menangis. Air matanya jatuh pelan, seolah melepaskan tahun-tahun yang terpendam. Ia mengangguk, lalu berbisik:
“Aku juga menunggu.”
Cinta mereka tidak sempurna. Banyak tantangan menunggu. Perbedaan budaya, jarak, dan masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.
Namun Vincent tak lagi ragu.
Karena ia telah belajar satu hal paling penting dalam hidupnya:
Kadang, kita baru tahu siapa cinta sejati kita… tepat saat kita kehilangan mereka.
Dan ketika kesempatan kedua datang,
ia tidak akan melepaskannya lagi.
Kiriman Bapak Vincent S Johan
Untuk Sahabat KRIS
