Valentine day
Cerpen 0052
Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat
Jakarta ,Sabtu 14 Pebruari 2026
CINTA itu Ajaib
Ada dua orang sahabat di sebuah kamar rumah sakit
Yang seorang buta dan yang seorang lagi Sakit Jantung parah
Setiap hari Pasien Yang sakit Jantung bercerita kepada sahabat sekamarnya tentang keindahan dunia melalui sebuah jendela kamar kepada Pasien yang Buta
Saat ajal menjemput tiba Pasien Jantung bersedia menyumbangkan kornea matanya kepada Pasien Buta
Pasien Buta di operasi transplantasi mata dan dia bisa melihat
Pertama kali melihat dia minta perawat agar di bawa ke kamarnya karena dia mau melihat dan menikmati keindahan alam yang di ceritakan oleh Pasien Jantung saat masih hidup
Ternyata setelah melihat kamar mereka itu gelap dan tidak ada jendela sama sekali
Pasien yang mantan Buta itu air matanya jatuh dan disana dia mengerti Apa itu arti Cinta
Hari ini kita memperingati hari Kasih Sayang
Untuk memperingati wafatnya Santo Valentinus
Mungkin saya mengutip sedikit kisahnya buat kita renungkan
Apa arti Cinta
Seperti yang dialami Pasien Buta tadi
Surat Cinta Terakhir dari Penjara Batu
Malam itu Roma terasa lebih dingin dari biasanya.
Di balik dinding penjara batu yang lembap, Santo Valentinus duduk bersandar, menatap cahaya obor yang menari di dinding.
Besok pagi, hidupnya akan berakhir. Ia tahu itu.
Namun anehnya, hatinya tenang
seolah cinta telah menyiapkan pelukan terakhirnya.
Valentinus bukanlah prajurit, bukan pula bangsawan. Ia hanya seorang imam kecil yang percaya bahwa cinta adalah doa paling jujur yang bisa dipanjatkan manusia.
Ketika Kaisar Claudius II melarang pernikahan demi ambisi perang, Valentinus justru membuka pintu rumahnya setiap malam.
Di sanalah, dengan suara lirih dan lilin kecil, ia menikahkan pasangan-pasangan muda yang saling mencintai.
“Apa kau tidak takut, Romo?” tanya Lucia suatu malam, seorang gadis yang akan menikah dengan Marcus, prajurit muda yang esoknya harus berangkat ke medan perang.
Valentinus tersenyum lembut.
“Cinta yang diberkati tak pernah sia-sia, Nak.
Bahkan jika dunia runtuh sekalipun.”
Ketika akhirnya ia ditangkap, tak ada penyesalan di wajahnya. Hanya doa.
Di penjara, Valentinus bertemu Julia, putri sipir penjara.
Gadis itu buta sejak kecil. Setiap sore, Julia duduk di luar jeruji, mendengarkan Valentinus bercerita
tentang bunga yang mekar di musim semi, tentang warna langit senja, tentang wajah manusia yang bersinar ketika mencintai.
“Aku tak pernah melihat dunia,” kata Julia dengan suara bergetar.
“Tapi kau merasakannya,” jawab Valentinus.
“Dan cinta membuat dunia itu nyata.”
Hari demi hari berlalu. Valentinus berdoa untuk Julia, bukan dengan kata-kata panjang, melainkan dengan ketulusan.
Suatu pagi, Julia menjerit kecil. Cahaya masuk ke matanya
perlahan, rapuh, namun nyata. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Valentinus: lelah, penuh luka, tetapi bercahaya oleh kasih.
Tangis Julia pecah.
“Romo… dunia ini indah.”
Valentinus tersenyum. Itu sudah cukup baginya.
Malam sebelum eksekusi, Valentinus meminta selembar kertas. Tangannya gemetar, bukan karena takut mati, tetapi karena cinta yang ingin ia titipkan.
Julia yang terkasih,
Jangan takut mencintai.
Dunia bisa kejam, tetapi cinta selalu menemukan jalannya.
Jika suatu hari engkau meragukan kebaikan, ingatlah bahwa ada seseorang yang mati demi mempercayainya.
Dari Valentinemu.
Pagi 14 Februari 269 M, ketika pedang diangkat, tak ada jeritan. Hanya angin yang berhembus lembut, seolah membawa doa-doa cinta yang pernah ia satukan.
Dan sejak hari itu, dunia mengenang namanya
bukan sebagai martir kematian, melainkan saksi cinta yang tak pernah mati.
www.kris.or.id I www.adharta.com
