Djiong
Benci yang Rindu, Rindu yang Benci

Cerpen 0051

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

14 Pebruari 2026

Selamat Hari Valentine

Dalam kepercayaan orang Tionghoa, ada satu kata yang sulit dijelaskan dengan logika manusia modern
Djiong.

Ia bukan sekadar kebetulan.
Bukan pula hanya pertemuan biasa.

Djiong adalah ikatan
entah cinta, entah benci
yang menyeberang dari satu kehidupan ke kehidupan lain, menunggu waktu untuk bertemu kembali.

Kisah Cinta

Albert tidak pernah percaya hal-hal seperti itu.
Ia mahasiswa Fakultas Ekonomi, rasional, teratur, dan logis.

Namun semua keyakinannya mulai runtuh sejak ia bertemu Rina.

Pertemuan mereka sederhana.
Satu universitas.
Satu fakultas.

Satu kelompok belajar.
Rina adalah perempuan dengan senyum yang mudah hadir, tutur kata lembut, dan mata yang menyimpan kedalaman. Bersamanya, Albert merasa akrab sejak hari pertama, seolah tidak ada jarak, seolah mereka sudah lama saling mengenal.

Hari-hari kampus mereka dipenuhi kebersamaan.
Belajar hingga malam.
Berbagi mimpi tentang masa depan.
Tertawa karena hal-hal kecil.

Diam bersama tanpa rasa canggung.
Albert menyayangi Rina dengan tulus.
Dan Rina mencintai Albert dengan caranya yang tenang.
Namun di balik semua keindahan itu, ada sesuatu yang tidak pernah mereka ceritakan
hingga akhirnya tak bisa lagi disembunyikan.
Setiap malam, Albert bermimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia dan Rina bertengkar hebat.
Bukan pertengkaran kecil.
Bukan adu argumen biasa.
Melainkan amarah yang membara, kebencian yang begitu dalam, hingga tangan mereka saling memukul tanpa belas kasih.

Albert selalu terbangun dengan napas tersengal, tubuh basah oleh keringat, dan dada yang sesak.

Ia heran.
Bagaimana mungkin di dunia nyata ia mencintai Rina, tetapi di dunia mimpi ia begitu membencinya?

Dua dunia yang bertolak belakang, bagai langit dan bumi.
Yang lebih mengganggu, mimpi itu datang hampir setiap malam.

Albert mencoba menyembunyikannya.
Ia tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.
Namun ia tidak tahu bahwa Rina mengalami hal yang sama.
Setiap malam, Rina juga dihantui mimpi penuh amarah.
Dalam mimpinya, wajah Albert berubah dingin.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya tajam seperti pisau. Rina menangis, berteriak, membenci
perasaan yang sama sekali tidak ia rasakan saat terjaga.
Pagi hari, mereka bertemu di kampus, saling tersenyum, seolah malam sebelumnya tidak pernah ada.

Namun mata tidak pernah bisa berbohong.
Ada kelelahan.
Ada ketakutan.
Ada tanya yang menggantung.
Suatu malam, di bawah langit yang redup, Albert akhirnya berkata pelan,

“Rina… akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk.”

Rina terdiam lama.
Lalu air matanya jatuh.

“Aku juga,” jawabnya lirih.

Malam itu mereka saling bercerita.
Tentang mimpi.
Tentang amarah.
Tentang rasa benci yang muncul tanpa sebab.
Mereka berpelukan, menangis, bingung, dan takut kehilangan satu sama lain.

Padahal mereka punya cita-cita yang sama.
Setelah lulus sarjana, Albert berencana melamar Rina.

Mereka membayangkan rumah kecil, meja makan sederhana, dan kehidupan yang tenang.
Namun semakin dekat waktu kelulusan, semakin berat beban batin mereka.

Hingga suatu hari, seseorang menyarankan mereka menemui seorang hwesio di klenteng tua di pinggir kota Jakarta.

Dengan hati ragu namun penuh harap, mereka datang.
Hwesio Bante menyambut mereka dengan senyum damai. Setelah mendengarkan cerita panjang mereka, ia menutup mata sejenak, lalu berkata pelan,
“Kalian ini Djiong.”

Albert dan Rina saling berpandangan.

“Djiong adalah ikatan karma,” lanjut hwesio itu. “Bisa jadi di kehidupan lampau, kalian sangat dekat… atau sangat bermusuhan.

Perasaan itu belum selesai, maka ia terbawa hingga kini.”

“Lalu… apakah kami harus berpisah?” tanya Rina dengan suara bergetar.

Hwesio Bante menggeleng.
“Tidak semua Djiong datang untuk diputus. Ada yang datang untuk disembuhkan.”

Albert menggenggam tangan Rina erat.
Mereka berdua berasal dari keluarga Katolik. Mereka berdoa dengan cara yang mereka kenal.

Namun malam itu, mereka belajar satu hal baru bahwa cinta kadang bukan tentang memulai, melainkan menyelesaikan.
Sejak hari itu, mereka tidak lagi melawan mimpi.
Mereka menghadapinya dengan doa, dengan kejujuran, dengan saling memaafkan
bahkan atas kesalahan yang mungkin tidak pernah mereka ingat.

Mimpi itu perlahan memudar.
Tidak langsung hilang, tetapi semakin jarang.
Dan setiap kali terbangun dengan air mata, mereka selalu saling menggenggam tangan, mengingatkan diri bahwa mereka memilih cinta.

Hari kelulusan pun tiba.
Albert berdiri dengan toga, menatap Rina yang tersenyum sambil menahan tangis.

Di tengah keramaian, Albert berlutut.
Bukan dengan janji sempurna.
Melainkan dengan suara gemetar.

“Entah berapa kehidupan kita sudah bertemu… aku hanya ingin, di kehidupan ini, kita saling menyembuhkan.

Rina menangis, lalu mengangguk.
Karena Djiong bukan tentang benci atau rindu.
Ia tentang takdir yang meminta keberanian untuk mencintai, meski pernah terluka.

Dan cinta mereka pun berlanjut
bukan tanpa bayang-bayang masa lalu, tetapi dengan cahaya pengampunan

www.kris.or.id I www.adharta.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *