Cerpen Nomor 0045

Nasib atau Takdir

Oleh: Adharta
Ketua Umum KRIS

Komunitas Relawan Indonesia Sehat

Jakarta, 30 Januari 2026

Besok pagi aku akan terbang ke Surabaya. Seperti biasa, sebelum perjalanan jauh, pikiranku selalu dipenuhi potongan potongan kenangan yang datang tanpa diundang.

Pagi ini, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin, aku sempat mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada seorang sahabat lama:

Bapak Hermes Thamrin.

Beliau bukan sekadar sahabat.

Dalam banyak hal, ia lebih mirip seorang kakak tempat berbagi cerita, kegagalan, keberhasilan, dan tawa yang jujur.

Dunia mengenalnya sebagai tokoh besar di bidang komunikasi. Siapa yang tak mengenal Nokia dengan slogannya “Connecting People”? Atau Global Teleskop, Hotel Hermes, Mall Hermes nama-nama yang kini menjadi simbol kesuksesan. Namun bagiku, Hermes bukanlah sekadar deretan pencapaian.

Ia adalah kisah tentang perjuangan.
Aku masih ingat bagaimana ia bercerita dengan mata berbinar tentang masa-masa awal menjual Hazeline Snow Cream, krim wajah yang sederhana, yang entah mengapa selalu menjadi krim favoritku.

Dari cerita-cerita itulah aku belajar bahwa kesuksesan tidak pernah berdiri sendiri.
Kesuksesan sering kali berjalan berdampingan dengan sesuatu yang disebut orang sebagai nasib baik.

Tapi benarkah nasib baik berdiri sendiri? Atau ia hanya bagian dari sesuatu yang lebih besar yang kita sebut takdir?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Kita semua dilahirkan dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang lahir di Indonesia, ada yang di negeri orang.

Ada yang terlahir sebagai keturunan Tionghoa, Jawa, Batak, atau Minang. Ada yang lahir dari keluarga sederhana, ada pula yang sejak membuka mata sudah dikelilingi kemewahan.

Ada yang terlahir sebagai anak jenderal, anak raja, anak tokoh besar.

Semua itu bukan pilihan. Itulah takdir sesuatu yang tidak bisa kita ubah.

Takdir adalah garis awal kehidupan. Kita tidak pernah memilih di mana kita dilahirkan, kepada siapa kita dilahirkan, atau dalam kondisi apa kita memulai hidup. Jika takdir seseorang adalah lahir dalam keluarga berada, sering kali nasib akan mengikutinya.

Begitu pula dengan umur, kesehatan dasar, dan banyak hal lain yang terasa begitu dekat dengan takdir. Namun hidup tidak berhenti di garis awal.

Ada perjalanan panjang setelahnya. Di sinilah nasib mulai bekerja. Nasib bukan tentang dari mana kita berasal, melainkan tentang apa yang terjadi dalam perjalanan hidup. Nasib bisa berubah naik atau turun tergantung pilihan, sikap, dan mungkin… sesuatu yang tak kasatmata.

Coba dengar lagu Hokkian

Ai pia cai e yaa

Aku teringat sahabatku yang lain, Herman. Di antara teman-teman, Herman dikenal sebagai orang yang “bernasib mujur.”

Julukannya bahkan lebih ekstrem si Tangan Emas. Apa pun yang disentuhnya seolah berubah menjadi keberhasilan. Tanpa banyak usaha, tanpa ambisi berlebihan, peluang datang sendiri kepadanya.

Bahkan ketika ia duduk manis, rezeki seperti tahu jalan pulang.

Suatu hari, Herman bercerita tentang sebuah keluarga miskin di wilayah timur Surabaya. Mereka memiliki sebidang tanah cukup luas, sekitar lima ratus meter persegi. Karena kesulitan ekonomi, tanah itu terpaksa dijual.
Tak ada yang berminat. Lokasinya terpencil, tak bernilai, dan dianggap tak punya masa depan. Herman membeli tanah itu bukan karena melihat peluang. Ia membantu semampunya. Baginya, uang itu lebih sebagai uluran tangan daripada investasi.

Tanah itu pun dibiarkan begitu saja, tanpa rencana, tanpa harapan.
Sepuluh tahun berlalu.
Daerah itu tiba-tiba masuk dalam rencana pembebasan lahan. Letaknya ternyata sangat strategis. Herman dipanggil, diajak berdiskusi, dan ditawarkan skema barter: tanah lima ratus meter miliknya ditukar dengan lima ribu meter persegi di tepi kawasan pengembangan.

Belum lama berselang, kabar lain datang. Akan dibangun sebuah jembatan besar. Dan entah bagaimana, tanah Herman berada tepat di ujung pusat jembatan itu lokasi emas yang nilainya melonjak berkali-kali lipat.

Herman hanya tersenyum saat bercerita. Seolah semua itu hal biasa.
Keberuntungan itu tidak berhenti di sana.

Ia memiliki seorang istri yang cantik, setia, dan anak-anak yang baik, santun, serta membanggakan.

Hidupnya terasa utuh.
Lengkap.
“Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini,” katanya suatu kali.
“Mungkin karena dulu aku sering menolong tanpa berharap kembali.”
Herman dikenal sebagai orang sosial. Ia ringan tangan, tidak perhitungan, dan selalu hadir saat orang lain membutuhkan.

Ia percaya bahwa hidup bukan sekadar tentang mengumpulkan, tetapi juga tentang memberi.

Aku pun merenung.
Mungkin di situlah titik temu antara takdir dan nasib.

Takdir adalah panggung, nasib adalah alur cerita. Dan di atas keduanya, ada sesuatu yang lebih halus namun kuat yakni karma.
Karma bukan hukuman, bukan pula hadiah instan.
Ia adalah akumulasi dari niat baik, perbuatan tulus, dan empati yang ditanam tanpa pamrih.

Karma bekerja pelan, diam-diam, sering kali melintasi waktu dan logika.

Nasib Herman baik. Takdirnya pun baik. Tapi yang membuat keduanya bertemu dan saling menguatkan adalah karma baik
buah dari hidup yang dijalani dengan hati.
Mungkin benar, kita tidak bisa memilih takdir. Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menjalani hidup. Dan dari sanalah nasib dibentuk, serta karma ditanam.

Besok pagi, pesawatku akan membawaku dan istri Lena ke Surabaya.
Pertama mau menghadiri perkawinan Jason putra Dr Juli
Besok malam
Kedua udah janjian dengan teman teman KRIS mau makan Pecel Pandegiling dengan Dokter Inna Widjaja nti dan kawan kawan

Tapi pikiranku hari ini sudah lebih dulu terbang menyusuri kisah, persahabatan, dan pelajaran hidup.

Tidak lupa Selamat ulang tahun, Bapak Hermes Thamrin.

Salam dan doa terbaikku untuk Bapak dan ibu Jane serta seluruh keluarga.

Semoga nasib baik selalu berjalan seiring dengan takdir yang indah, dipandu oleh karma yang penuh kebaikan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang ke mana kita ditakdirkan lahir, tetapi tentang jejak apa yang kita tinggalkan di sepanjang jalan.

www.adharta.com

www.kris.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *