Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Hujan cukup deras menyelimuti Jakarta.
Di tengah cuaca yang muram itu, saya melaju menuju Tangerang, ke sebuah hotel milik sahabat lama.
Di sanalah kami bertemu kembali setelah sekian lama tidak bersua, beberapa rekan direksi dari Grup Hotel Santika juga hadir menghangatkan suasana.
Waktu pertemuan memang singkat, namun diskusi yang mengalir terasa padat, jujur, dan sarat makna.
Saya banyak belajar dari para tokoh perhotelan nasional yang luar biasa. Santika Group merupakan salah satu group perhotelan yang terbentang di garis katulistiwa. Memberikan inspirasi pada saya untuk sedikit memberikan sumbangan pemikiran. Mudah-mudahan berguna bagi penggilingan keputusan, demi membangun bangsa dan negara kita tercinta Indonesia.
Tema utamanya: Masa depan industri perhotelan Indonesia di tahun 2026 dan 2027. Percakapan pagi ini mempertemukan optimisme dan kewaspadaan. Ada kekhawatiran para pebisnis hotel, tetapi juga ada keyakinan bahwa industri perhotelan seperti biasa selalu punya daya lenting untuk bertahan, bahkan bangkit, bila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Kondisi Ekonomi 2026: Tantangan Nyata dan Global
Pandangan pertama yang saya sampaikan cukup lugas: kondisi ekonomi tahun 2026 masih suram, bahkan cenderung gelap.
Tekanan ekonomi global belum sepenuhnya reda. Gejolak geopolitik, ketidakpastian pasar keuangan, fluktuasi nilai tukar, serta perubahan pola konsumsi masyarakat memberi dampak langsung pada berbagai sektor strategis. Industri pariwisata, penerbangan, dan perhotelan menjadi sektor yang paling cepat merasakan dampaknya. Penurunan daya beli, pengetatan anggaran perjalanan korporasi, hingga selektivitas wisatawan internasional membuat tingkat hunian hotel berada dalam tekanan.
Menurut pandangan saya, tahun 2026 dan 2027 masih merupakan fase penuh tantangan, bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal beradaptasi dengan realitas baru. Namun, justru di tengah tekanan inilah kualitas kepemimpinan dan strategi diuji. Kesempatan masih terbuka: Kunci keberhasilan ada pada kolaborasi.
Pandangan kedua yang saya tekankan adalah bahwa kesempatan tetap terbuka, bahkan di tengah situasi sulit.
Industri perhotelan Indonesia masih memiliki potensi besar, baik dari sisi pasar domestik yang kuat, posisi geografis strategis, maupun kekayaan destinasi yang tidak dimiliki banyak negara lain. Kuncinya ada pada kolaborasi, bukan kompetisi yang saling melemahkan. Persaingan harga yang tidak sehat hanya akan mempercepat kelelahan industri.
Yang dibutuhkan justru kesepahaman bersama untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Kolaborasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk: Aliansi antargrup hotel, baik dalam pemasaran, sistem reservasi, hingga pengadaan. Kesepakatan etika harga untuk mencegah perang tarif yang merusak nilai industri. Berbagi data dan insight pasar agar keputusan bisnis lebih presisi. Industri perhotelan harus bergerak dari pola berjuang sendiri menuju bertahan bersama.
Inovasi Model Bisnis: Dari Investasi Kamar Hingga IPO
Diskusi juga menyentuh banyak ide segar. Salah satunya adalah model investasi kamar, di mana unit kamar dijual secara internal kepada investor strategis, karyawan senior, atau mitra loyal, sebelum melangkah ke skala yang lebih besar seperti public offering.
Model ini membantu: 1. likuiditas hotel tanpa ketergantungan penuh pada pinjaman bank. 2. Menciptakan rasa memiliki (sense of ownership) dari para pemangku kepentingan. 3. Membuka jalan menuju tata kelola yang lebih transparan dan profesional.
Selain itu, kerja sama dengan biro perjalanan, platform digital, serta grup usaha besar lintas sektor menjadi sangat krusial. Hotel tidak lagi bisa berdiri sendiri sebagai penyedia kamar, melainkan sebagai bagian dari experience ecosystem.
Medical Tourism: Peluang Strategis yang Belum Maksimal
Salah satu peluang besar yang saya anggap belum digarap optimal adalah Medical Tourism. Indonesia memiliki rumah sakit dan tenaga medis yang semakin kompetitif, namun masih kalah dalam hal integrasi layanan. Bayangkan kolaborasi strategis antara: Industri perhotelan – Rumah sakit dan klinik unggulan – Maskapai penerbangan – Biro perjalanan internasional.
Paket terpadu medical & wellness tourism tidak hanya menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga mencegah aliran devisa keluar negeri karena selama ini banyak warga Indonesia berobat ke luar negeri. Lebih jauh lagi, konsep ini berpotensi menarik devisa masuk, terutama dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Pasifik. Hotel tidak sekadar menjadi tempat menginap, tetapi bagian dari proses pemulihan dan kenyamanan pasien serta keluarga.
Prediksi 2026–2027: Bertahan, Menyusun Ulang, dan Bersiap Bangkit
Saya melihat fase ini sebagai periode konsolidasi. Bukan masa ekspansi agresif, melainkan waktu untuk:
* Merapikan struktur biaya
* Memperkuat SDM inti
* Meningkatkan efisiensi operasional
* Memperdalam kolaborasi lintas sektor
Hotel yang mampu bertahan di fase ini, dengan neraca sehat dan strategi jelas, akan berada di posisi sangat kuat saat siklus ekonomi kembali membaik.
Harapan ke Depan: Dari Kompetisi ke Kolaborasi Bermakna
Saya sangat berhara industri perhotelan Indonesia bergerak menuju kolaborasi yang dewasa dan bermartabat. Kolaborasi bukan sekadar proyek bersama, tetapi kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan hanya bisa dicapai bila semua pihak tumbuh bersama. Konsep kolaborasi terbaik adalah: Berbasis kepercayaan; saling menguatkan, bukan mendominasi; dan mengutamakan kepentingan jangka panjang industri nasional.
Di tengah hujan pagi itu, saya pulang dengan keyakinan bahwa meski langit ekonomi tampak mendung, industri perhotelan Indonesia belum kehilangan harapan. Dengan kepemimpinan yang jernih, inovasi yang berani, dan kolaborasi yang tulus, jalan keluar dari kesulitan bukanlah ilusi melainkan kemungkinan nyata yang sedang kita bangun bersama.
Semoga kita semua bisa menyadari pentingnya kebangkitan Bersama.
Salam sehat
Adharta
www.adharta.com
